Swamedikasi
adalah mengobati segala keluhan pada diri sendiri dengan obat-obatan yang
dibeli di apotek atau toko obat atas inisiatif sendiri tanpa resep dokter (Tan
dan Raharja, 2010). Dengan swamedikasi, penderita dapat segera mengobati
penyakitnya tanpa harus ke dokter, namun juga dapat menimbulkan risiko apabila
keluhan-keluhan yang dirasakan dinilai salah dapat diberikan obat yang salah
pula.
Prinsip
swamedikasi adalah mengetahui keluhan-keluhan atau batasan penyakit yang boleh
diobati sendiri dan mana yang tidak. Dalam praktik batasnya ditentukan oleh
obat-obat yang dapat dibeli di apotek secara bebas. Pada umumnya
keluhan-keluhan agak ringan yang biasanya sembuh dengan sendirinya seperti :
salesma, gatal karena jamur, flu, sakit kepala, dan tenggorokan, nyeri lambung,
nyeri otot yang tidak terus menerus layak untuk diswamedikasi (Tan dan Raharja,
2010).
Gejala
berbahaya yang tidak boleh diobati sendiri diantaranya adalah : batuk dan serak
yang bertahan lebih lama dari 1-2 minggu, batuk darah, rasa nyeri atau sulit
menelan yang tidak segera sembuh, borok yang tidak segera sembuh, buang air
besar/kecil dengan darah, keluarnya lendir/darah yang luar biasa dari vagina, demam
di atas 40˚C yang bertahan lama lebih dari 2-3 hari yang disertai gejala-gejala
lain, seperti nyeri tenggorokan dan diare atau muntah yang hebat (Tan dan Raharja,
2010).
Pasien
harus benar-benar paham dalam memilih obat sebagai upaya pengobatan sendiri,
disinilah peran farmasis untuk membimbing dan memilih tambahan obat yang
tepat. Farmasis dapat meminta informasi
kepada pasien agar pemilihan obat lebih tepat (Tan dan Raharja, 2010).
Pasien
yang akan membeli obat bebas atau obat bebas terbatas di apotik, perlu dijelaskan
hal-hal :
a. Pernah
mengalami alergi terhadap makanan obat-obatan atau senyawa lain atau tidak.
b. Sedang
diet rendah garam, rendah gula atau senyawa lain atau tidak, karena selain
mengandung bahan berkhasiat sediaan obat juga mengandung bahan tambahan lain.
c. Sedang
hamil atau tidak, sebab beberapa obat yang diminum oleh ibu hamil maupun yang
menyusui dapat melewati air susu ibu dan menimbulkan efek yang tidak diinginkan
pada bayi.
d. Sedang
minum obat lain selain minum obat yang dianjurkan dokter atau tidak, termasuk
obat bebas dan bebas terbatas seperti pereda nyeri , atau penggunaan antasida (Tan
dan Raharja, 2010).
Oleh:
I Gusti A. A. Ratih Cardiani P. (1508526001)
DAFTAR
PUSTAKA
Tan, H. T. dan K. Rahardja. 2010. Obat-obatan Sederhana Untuk Gangguan
Sehari-hari. Jakarta: Penerbit Gramedia